Home Artikel Inilah Tujuan Mulia Pernikahan Rasulullah Saw

Inilah Tujuan Mulia Pernikahan Rasulullah Saw

by Umi Aga
Inilah Tujuan Mulia Pernikahan Rasulullah Saw

Inilah tujuan mulia pernikahan Rasulullah Saw. Siapa pun yang dengan teliti memperhatikan kehidupan Rasulullah Saw, dia akan mengetahui secara pasti bahwa pernikahan beliau dengan sejumlah wanita itu terjadi pada fase terakhir usia beliau. Yakni setelah melewatkan tiga puluh tahun dari masa muda beliau, yang pada masa itu beliau lewatkan bersama Khadijah binti Khuwailid. Lalu, selanjutnya bersama dengan Saudah. Akan kita temukan bahwa pernikahan beliau dengan sejumlah wanita itu bukan karena dorongan yang lahir untuk mencari kepuasan dari sekian banyak wanita. Tetapi, di belakang itu semua terdapat tujuan tertentu yang lebih agung dari keseluruhan pernikahan beliau.

Tujuan Mulia Pernikahan

DalamAl Quran Surat An Nisa ayat 1, Allah menyatakan bahwa salah satu tujuan pernikahan adalah dalam rangka mendapatkan keturunan dan memperoleh generasi penerus.

“Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)-nya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.” (QS. An Nisa : 1)

Nah, berikut ini adalah beberapa tujuan mulia pernikahan Rasulullah Saw:

  1. Menjalin hubungan yang sangat erat dengan keempat sahabat beliau.

Tujuan beliau yang paling dekat dan mudah kita baca adalah berbesan dengan Abu Bakar dan Umar, dengan menikahi ‘Aisyah dan Hafshah. Lalu mengapa Rasulullah Saw menikahkan putri beliau, Fathimah dengan Ali bin Abu Thalib, Ruqayyah dan kemudian Ummu Kultsum dengan Utsman bin Affan. Semuanya menunjukkan bahwa beliau benar-benar ingin menjalin hubungan yang sangat erat dengan keempat sahabat beliau. itu. Yang kita juga tahu bagaimana pengorbanan mereka untuk kepentingan Islam pada masa yang kritis sekalipun, yang berkat kehendak Allah akhirnya masa-masa krisis itu dapat terlewati dengan selamat.

  1. Mengikis habis peluang permusuhan di antara beberapa kabilah terhadap Islam.

Satu di antara tradisi bangsa Arab adalah mereka sangat menghormati hubungan perbesanan. Menurut pandangan mereka hubungan besan ini akan membuka kedekatan antara beberapa suku yang berbeda. Maka mencela dan memusuhi besan merupakan aib yang dapat mencoreng muka. Maka dengan menikahi beberapa wanita yang menjadi Ummahatul Mukminin, Rasulullah Saw berharap dapat mengikis habis peluang permusuhan di antara beberapa kabilah terhadap Islam. Sekaligus memadamkan api kedengkian mereka terhadap Islam.

  1. Strategi dakwah dalam Meng-Islamkan kaumnya

Setelah Ummu Salamah dari bani Makhzum yang satu kampung dengan Abu Jahal dan Khalid bin Walid menikah dengan Rasulullah Saw, sikap Khalid bin Walid berubah. Ia tidak lagi segarang waktu Perang Uhud. Bahkan dalam waktu yang relatif tidak lama, dia pun masuk Islam dengan kesadaran dia sendiri. Demikian halnya Abu Sufyan, dia tidak lagi berani memusuhi beliau setelah beliau menikahi putrinya, Ummu Habibah. Begitu pula yang terjadi dengan bani Musthaliq dan bani Nadhir yang tidak lagi melancarkan permusuhan setelah beliau menikahi Juwairiyyah dan Shafiyyah. Bahkan Juwairiyyah merupakan sosok yang banyak membawa berkah bagi kaumnya. Setelah dia menikah dengan Rasulullah Saw, para sahabat membebaskan seratus keluarga dari kaumnya.

Baca juga: Nasehat Pernikahan untuk Pengantin Baru

  1. Menyucikan dan mengenalkan tatanan masyarakat yang maju dan beradab

Lebih jauh dari itu, Rasulullah Saw mendapatkan perintah untuk menyucikan dan mengenalkan kaumnya pada peradaban. Kaum Jahiliyah belum mengenal etika, kebudayaan, dan peradaban yang wajar dalam rangka mambangun sebuah tatanan masyarakat yang maju. Prinsip dasar untuk membangun masyarakat Islam, tidak memberikan peluang bagi kaum laki-laki untuk bercampur dengan kaum wanita.

Sementara itu, di sisi lain hal itu merupakan tuntutan dan kebiasaan adat yang telah turun temurun. Padahal pemberdayaan kaum wanita tidak lebih sedikit dari pada pemberdayaan kaum laki-laki, bahkan bisa jadi lebih kuat dan lebih dominan. Maka Rasulullah Saw mengambil pilihan ini sehingga beliau mengambil langkah dengan memilih beberapa wanita yang usianya berbeda-beda dengan kelebihan masing-masing, dengan harapan dapat mewujudkan tujuan ini.

  1. Mensucikan, mendidik, dan meninggikan derajat wanita

Melalui jalan pernikahan, beliau mensucikan, mendidik, mengajarkan para wanita istri beliau tentang syari’at dan hukum serta menggembleng mereka dengan berbagai pengetahuan Islam. Dengan begitu, beliau telah membekali mereka untuk mendidik dan mengarahkan para wanita dari pedalaman yang masih badui atau yang sudah punya adab (beradab).

Yang pada akhirnya, seolah-olah beliau mewakilkan tabligh dakwah kepada wanita melalui istri-istri beliau ini. Para Ummahatul-Mukminin ini memiliki peran yang sangat besar dan utama dalam mentransfer seluruh segi dari kehidupan Rasulullah Saw bagi semua orang. Khususnya istri-istri beliau yang hidup lebih lama seperti ‘Aisyah. ‘Aisyah adalah orang yang banyak sekali meriwayatkan hal ihwal Rasulullah Saw, baik perkataan beliau maupun ucapannya.

Inilah Tujuan Mulia Pernikahan Rasulullah Saw

Inilah Tujuan Mulia Pernikahan Rasulullah Saw

  1. Menghapus tradisi Jahiliyah berupa kebiasaan menjadikan anak angkat

Kemudian pada kondisi masa itu juga terdapat satu pernikahan dengan tujuan untuk menghapus tradisi Arab Jahiliyah yang sudah terlalu mengakar, yaitu kebiasaan menjadikan anak angkat. Menurut pandangan Arab Jahiliyah, hak-hak anak angkat adalah sama dengan hak-hak anak kandung. Kebiasaan tersebut sudah begitu mengakar dalam hati mereka sehingga tidak mudah begitu dihapus sesuai ajaran di dalam Islam. Yaitu dalam kaitannya dengan nikah.

Padahal, tradisi tersebut sangat bertentangan dengan dasar-dasar yang thalaq, waris, dan sebagainya dari pergaulan kekeluargaan. Kebiasaan mengambil anak angkat itu merupakan tradisi yang sangat merusak bagi tatanan keturunan serta membawa pada hal-hal yang keji dan buruk. Yang kemudian mesti dihapuskan dari tatanan masyarakat. Allah SWT memberikan kekuatan kepada Rasulullah Saw untuk menghapuskan tradisi buruk tersebut. Beliau mendapatkan perintah untuk menikahi putri bibi beliau, Zainab binti Jahsy, yang sebelumnya adalah istri Zaid bin Haritsah (yang merupakan anak angkat Rasulullah Saw).

Baca juga: Tips Manjur Agar Keluarga Bahagia

Pada saat itu, kondisi membuat beliau khawatir pada makar orang orang munafik, Musyrik, dan Yahudi sehingga bisa menimbulkan dampak yang tidak baik dan berpengaruh terhadap jiwa kaum Muslimin yang masih lemah imannya. Maka ketika Zaid memulai pembicaraan tentang keinginannya untuk menceraikan Zainab, beliau menganjurkan agar Zaid tidak menceraikannya. Tujuan beliau adalah untuk menghindari dampak atau ujian yang akan muncul dalam kondisi sulit seperti itu. Hal itu bertujuan untuk menghapuskan kebiasaan buruk mengangkat anak angkat secara nyata.

  1. Memberikan teladan langsung mengemban amanah dakwah

Betapa banyak tradisi Arab Jahiliyah yang sudah terlanjur mengakar sehingga tidak cukup dihapus dengan ucapan, melainkan dibutuhkan bahan pembanding, yaitu dengan teladan sang pengemban amanah dakwah. Hal ini nampak terlihat jelas dalam tindakan orang-orang Muslim saat di Hudaibiyah. Pada saat itu, terdapat orang-orang mukmin yang keadaannya seperti yang dituturkan oleh Urwah bin Mas’ud, bahwa setiap kali Rasulullah Saw mengeluarkan dahak, maka dahak itu ditadahi dengan tangan mereka. Dia juga melihat bagaimana sisa air wudhu Rasulullah Saw menjadi bahan rebutan, hingga hampir saja mereka bertengkar. Mereka adalah orang-orang yang bersaing untuk bai’at, menyatakan kesetiaan, bahkan siap mati atau siap untuk tidak lari.

Di tengah-tengah mereka juga bahkan terdapat Abu bakar dan Umar bin Khaththab, tetapi pada saat beliau memerintahkan untuk menyembelih kurban, tidak seorang pun di antara mereka yang bangkit dari duduknya untuk kemudian melaksanakan perintah Rasulullah Saw tersebut. Sehingga tanpa berbicara pada siapapun beliau melakukannya sendiri. Setelah itu, barulah mereka bangkit dan mengikuti apa yang dilakukan oleh beliau. Bahkan mereka pun bersaing dalam menyembelih hewan kurban itu. Melihat hal itu, nampak jelas perbedaan antara pengaruh tindakan nyata dengan perkataan semata, terutama dalam menghapus sebuah tatanan yang sudah mengakar itu.

  1. Sebagai contoh ideal dalam membangun rumah tangga

Begitu harmonisnya kehidupan rumah tangga beliau dengan para Ummahatul Mukminin menunjukkan kehidupan yang terhormat, mapan, dan harmonis. Derajat mereka setingkat lebih tinggi dalam hal kemuliaan, kepuasan, kesabaran, ketawadhuan, pengabdian, dan kewajiban memenuhi hak seorang suami. Padahal hidup beliau tidak pernah lepas dari keprihatinan yang bisa jadi tidak dapat ditanggung oleh seorang pun untuk menjalaninya. Dalam kondisi yang sempit dan serba kekurangan itu, istri-istri beliau tidak pernah mencaci ataupun mengumpat. Sebagai bukti kemuliaan mereka, maka mereka semua memilih Allah dan Rasul-Nya, dan memilih meninggalkan keduniaan. Juga tidak pernah terjadi kasus sebagaimana lumrahnya para istri yang dimadu, padahal mereka banyak. Mungkin ada satu atau dua kasus yang ringan, dan itu pun masih dalam batas-batas kewajaran sebagai manusia biasa.

Tentu saja masih banyak sekali tujuan mulia pernikahan Rasulullah Saw yang belum bias terungkap secara tertulis. Akhirnya, rasanya kami tidak perlu membahas lebih jauh tentang masalah poligami. Namun, siapa saja yang melihat kehidupan orang-orang musuh Islam yang menolak habis-habisan prinsip ini, ditambah lagi dengan kenyataan banyaknya penderitaan, kekacauan, serta berbagai kekejian yang muncul sebagai akibat dari penolakan terhadap prinsip ini. Mereka harus kembali mengkaji bahwa bukti nyata dalam kehidupan mereka tentang keadilan prinsip poligami ini. Sesungguhnya dalam semua itu terdapat pelajaran yang amat berharga bagi orang-orang yang berilmu. *Dari Kitab Shahih Sirah Nabawiyah, Karya Syaikh Shafiyurrahman al-Mubarakfury, Terbitan Darul Aqidah 2007

Oleh : Ummu Dzaga – Mompreneur tinggal di www.annidafshion.com

0 comment

You may also like

Leave a Comment