4 Hal yang Sebaiknya Dimiliki Suami dan Istri agar Tidak Saling Meremehkan. Dalam kitab I’anatut Thalibin jilid 3, tertulis nasihat menarik: lelaki seyogyanya memiliki kelebihan dari pasangannya dalam empat hal lahiriah, dan perempuan sepatutnya mempunyai kelebihan dalam empat aspek batiniah. Nasihat ini tidak lahir tanpa alasan, ia hadir sebagai bentuk kearifan dalam menjaga keseimbangan dan keharmonisan rumah tangga. Terbukti, ketidakseimbangan peran dalam rumah tangga kerap memicu masalah komunikasi, bahkan keretakan.
4 Bekal Lahiriah Lelaki agar Tak Diremehkan Pasangan
Dalam tradisi keilmuan Islam, lelaki sebagai qawwam (pemimpin rumah tangga) memiliki tanggung jawab besar yang menuntut kesiapan lahiriah. Dalam kitab I’anatut Thalibin, setidaknya ada empat hal yang sebaiknya dimiliki seorang lelaki agar tak diremehkan oleh pasangannya: usia, fisik (tinggi badan), harta, dan nasab.
Pertama, soal usia. Lelaki yang lebih tua biasanya dianggap lebih dewasa secara emosi, lebih stabil secara mental, dan memiliki visi hidup yang lebih jelas. Kedua, tinggi badan bukan sekadar urusan estetika, tetapi dalam banyak budaya, ia menjadi simbol proteksi dan rasa aman. Ini adalah aspek psikologis yang memengaruhi persepsi kepemimpinan.
Baca juga: 10 Hal Penting yang Harus Diketahui Sebelum Menikah
Ketiga, harta. Tak bisa dipungkiri, tanggung jawab finansial adalah pilar utama dalam peran lelaki sebagai pencari nafkah. Lelaki yang mapan secara ekonomi biasanya lebih dihargai dalam relasi rumah tangga. Keempat, nasab keluarga yang baik menambah kehormatan di mata istri dan keluarganya.
Tanpa keunggulan ini, lelaki dikhawatirkan akan kehilangan respek dari pasangannya. Dalam bahasa ulama, “akan diremehkan” bukan semata-mata soal otoritas, tetapi tentang bagaimana kehadirannya ditanggapi secara serius atau tidak dalam kehidupan bersama.

4 Hal yang Sebaiknya Dimiliki Suami dan Istri agar Tidak Saling Meremehkan
4 Keutamaan yang Sebaiknya Perempuan Miliki
Kaum lelaki diposisikan sebagai sosok tangguh di ranah lahiriah. Sedangkan perempuan mendapatkan porsi istimewa di sisi batiniah. Empat hal yang sebaiknya perempuan unggul dari pasangannya menurut I’anatut Thalibin adalah: kecantikan, adab, akhlak, dan sifat wira’i.
Kecantikan, meskipun relatif, tetap menjadi anugerah yang tak bisa disangkal pengaruhnya dalam membina keharmonisan rumah tangga. Wajah yang cerah, senyum yang lembut, dan penampilan yang menyenangkan menjadi faktor penyemangat suami dalam mengarungi kehidupan.
Baca juga: 8 Ciri Istri yang Membantu Suami Berlimpah Rezeki
Adab merupakan cermin kepribadian. Seorang istri yang beradab tahu waktu berbicara, tahu cara menyampaikan pendapat, dan tahu menempatkan diri. Ini lebih dari sekadar sopan santun, ia adalah seni dalam menjaga atmosfer rumah tangga agar tetap teduh. Akhlak pun demikian, ia menjadi pilar utama dalam mendidik anak, membina hubungan dengan mertua, tetangga, dan masyarakat luas.
Yang tak kalah penting, sifat wira’i menunjukkan keimanan yang kuat. Perempuan yang selektif dalam hal halal dan haram akan membawa keberkahan spiritual dalam rumah tangga. Inilah keunggulan perempuan dalam hubungan, bukan sekadar cantik, tapi juga membawa cahaya iman di dalam rumah.
Menyatukan Peran, Menjaga Keseimbangan
Para ulama memberikan nasihat bukan hanya untuk zaman mereka, tapi untuk semua zaman. Nasihat dalam I’anatut Thalibin adalah tawaran format hubungan yang menyeimbangkan antara aspek lahir dan batin, antara tanggung jawab dan penghormatan. Bila lelaki kuat di lahir, dan perempuan kokoh di batin, maka rumah tangga akan berjalan di atas rel kerjasama, bukan dominasi.
Masalah sering muncul ketika peran ini tertukar atau timpang. Lelaki yang tak siap secara lahir, cenderung minder. Perempuan yang tak kuat secara batin, mudah emosional. Ketimpangan ini bisa menimbulkan frustrasi, konflik, dan hilangnya rasa saling menghargai. Maka, hubungan yang seimbang adalah kunci kententraman rumah tangga.
Sebagaimana Tepuk Sakinah yang diinisiasi oleh Kemenag RI, rumah tangga yang dibangun atas dasar saling cinta, saling hormat, saling jaga, dan saling ridho, lebih tahan menghadapi ujian. Nilai-nilai yang diangkat ulama klasik, ternyata masih sangat aplikatif di era modern jika disikapi secara bijak.
Singkatnya, hubungan lelaki-perempuan dalam Islam tidak tentang siapa yang lebih tinggi, tapi siapa yang lebih siap memikul peran sesuai fitrahnya. Keduanya saling menopang, bukan saling menjatuhkan. Mungkin inilah saatnya kita kembali belajar pada kebijaksanaan kitab kuning, agar keluarga zaman now tetap mengakar dan bermartabat.
Oleh: Khoirin Nida’, S.Si – Mahasiswa PG PAUD Univ. IVET Semarang & Guru KB RA Yaa Bunayya Demak
