7 Cara Membentuk Karakter Anak Sholih. Setiap orang tua tentu saja mendambakan memiliki anak sholih. Untuk mewujudkan harapan mendapatkan anak sholih tidaklah mudah. Dibutuhkan perjuangan, kesungguhan, kesabaran, keikhalasan orang tua dalam mengarahkan, membina dan mendidik anak agar menjadi sholih. Dan tidak kalah penting orang tua harus memiliki ilmu agama yang memadai, menguasai ilmu pendidikan, mengetahui tahap perkembangan anak. Dan yang tak kalah penting adalah meminta campur tangan serta bantuan kepada Allah dalam mendidik anak.
Mendidik anak di tengah kerusakan dan maksiat yang merajalela, tuntutan kebebasan ekspresi tanpa kendali, kebaikan diabaikan, ajaran agama dicampakkan, kedurhakaan menjamur, pergaulan bebas tanpa batas, shalat dan ibadah disia-siakan. Lebih mengerikan lagi terjadinya kehamilan anak di bawah umur di luar nikah tidak dianggap aib. Bisa diibaratkan mencari jarum di tumpukan jerami, membutukan kerja keras, keuletan dan kesabaran dalam mewujudkan anak yang sholih.
Nah, berikut ini adalah 7 cara membentuk karakter anak sholih yang bisa orang tua terapkan kepada putra-putrinya. Agar terwujud generasi yang berperadaban Islam, dan menjadi tabungan amal jariyah orang tua di akhirat kelak.
Daftar Isi
1. Mengajarkan Ibadah dengan Benar
Masa anak-anak adalah masa untuk penanaman nilai, pelatihan, pengasahan, dan pendidikkan. Bila pola tersebut terbangun sesuai tahap perkembangan anak maka ketika dewasa anak sudah bisa menerima beban perintah dan larangan sehingga tidak kesulitan menjalankan kewajiban agama dan hidup dengan penuh keyakinan, percaya diri dan keteguhan hati. Tanpa penanaman pola pendidikan yang terkonsep, sulit rasanya menuntut anak untuk menjadi anak-anak yang membanggakan.
Ibadah kepada Allah bisa memberi pengaruh kepada pribadi dan mental anak yang sangat menakjubkan. Anak yang terbiasa beribadah dan mengenal siapa Tuhannya, perasaan emosionalnya akan terkendali, hawa nafsu terpelihara, perilaku terkontrol, istiqamah tidak dikuasai syahwat dan tidak ternodai dengan syubhat. Jiwa anak yang senantiasa muroqabatullah, ruhaninnya bersih dari sifat jahat, pikiran tumbuh sehat dan pribadinya peka terhadap lingkungan, tawadhuβ kepribadiannya, mudah tersentuh dengan kebaikan dan gampang membantu orang-orang lemah.
2. Membiasakan Rajin Sholat Berjamaah
Shalat merupakan rukun Islam paling agung setelah syahadat. Ibadah shalat adalah tiang agama, cahaya keyakinan, peristirahatan ahli ibadah, sarana komunikasi antara seorang hamba dengan Rabbnya dan tempat mencari ketenteraman hati bagi umat muslim. Maka anak sholih harus diajarkan untuk menegakkan sholat tepat pada waktunya. Selain itu, anak juga dinasehati untuk tidak melalaikan sholat sesibuk apapun dia. Serta memberikan peringatan keras untuk tidak meninggalkan sholat.
Baca juga: 7 Langkah Menguatkan Jiwa dan Mental Anak
Pembiasaan sholat berjamaah kepada anak dapat dilaksanakan dengan beberapa tahapan sebagai berikut; pertama, memerintahkan sholat. Kedua, mendidik tata cara sholat yang benar. Ketiga, memberikan hukuman pukulan kasih sayang karena meninggalkan sholat. Keempat, mengenalkan manfaat sholat. Kelima, melatih dan membiasakan sholat berjamaah. Keenam, membiasakan sholat sunnah.
3. Mengajarkan untuk Cinta Masjid
Anak sholih harus dilatih untuk hadir ke masjid melaksanakan shalat jamaah. Selain itu ketika di masjid, anak juga bisa mendengarkan dakwah dan pelajaran Islam. Hati anak akan mudah terpengaruh dengan kebaikan dan mudah menerima kebenaran selagi belum pernah tercemar dengan keburukan. Maka salah satu dari tujuh orang yang diberikan Allah naungan pada masa tidak ada naungan adalah orang yang hatinya tertaut dengan masjid. Telah terbukti, masjid mampu melahirkan anak-anak didik dan generasi hebat. Masjid akan terus mampu meluluskan anak-anak didik yang hebat selagi orang tua dan para pendidik terus mendorong dan memotivasi mereka untuk senang dengan masjid.
Oleh karena itu, kewajiban bagi setiap dai dan pengelola masjid agar mengarahkan anak-anak kaum muslimin dengan lemah lembut, tawadhu, rendah hati, santun dan penuh kasih sayang serta memberi pengarahan dengan baik agar anak mencintai masjid, hatinya tertaut dengan masjid dan selalu rindu datangnya waktu shalat dengan segala aktifitas dan kegiatan masjid lainnya sehingga setiap Muslim akan selalu cinta untuk pergi ke masjid.

7 Cara Membentuk Karakter Anak Sholih
4. Gemar Infaq Dan Sedekah
Anak sholih harus berlatih memiliki rasa peduli kepada kaum lemah dan para pembela agama Allah dengan membayar zakat, infaq dan sedekah. Hal ini dalam rangka menumbuhkan kedermawanan, kasih sayang kepada fakir dan miskin, mengikis sifat bakhil dan membangun hubungan baik antara si kaya dengan si miskin sehingga tumbuh kepekaan sosial dalam dirinya, betapa indahnya Islam memilih kalimat zakat untuk mengungkapkan hak harta yang wajib dibayar oleh si kaya kepada orang-orang yang berhak menerima.
Maka zakat menurut makna istilah adalah hak harta yang wajib ditunaikan pada harta tertentu dan dalam waktu tertentu, sehingga zakat merupakan hak orang lain bukan pemberian dan karunia dari orang kaya kepada orang miskin. bahkan zakat merupakan hak harta yang wajib dikeluarkan kepada kelompok yang berhak menerimanya. Dan Allah juga menjelaskan secara jelas tentang waktu yang tepat untuk mengeluarkan kewajiban zakat.
5. Melatih Menjalankan Puasa
Puasa menurut arti bahasa adalah menahan. Sementara menurut makna istilah menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa seperti makan, minum dan berhubungan antara suami dan istri dari mulai terbit fajar hingga terbenam matahari dengan niat mendekatkan diri kepada Allah. Setelah memahamkan anak tentang konsep puasa, orang tua melatih anak untuk berpuasa secara bertahap. Mulai ikut makan sahur, berpuasa selama setengah hari, hingga anak sanggup berpuasa secara penuh.
Baca juga: Mengenal Cara Belajar Anak Sesuai Tahapan Usia
Puasa merupakan ibadah rohani dan jasmani. Dengan puasa seorang anak belajar berbuat ikhlas karena Allah dan merasa diawasi oleh-Nya, melatih anak untuk bersikap amanah, disiplin dan bersyukur atas nikmat Allah sekecil apapun. Karena dengan menjauhi makan meskipun sedang kelaparan, menjauhi minum meskipun sedang kehausan akan membentuk mental pandai bersyukur. Dan puasa juga memperkuat kemampuan anak untuk mengekang dorongan hawa nafsu dan keinginannya serta mem- buat seorang anak terlatih untuk bersikap sabar dan kuat, sehingga terbentuk pribadi bertakwa.
6. Mengajarkan cinta Al-Quran
Al-Quran merupakan kitab suci yang berasal dari Dzat Yang Maha Sempurna. Tidak terdapat cacat sedikitpun dan sebagai mujizat paling besar Nabi Muhammad Saw. Siapa pun yang berpegang teguh kepada Al-Quran akan mendapat jaminan selamat di dunia dan akhirat. Mengajarkan anak untuk cinta kepada Al-Quran tidak bisa serta merta, harus melalui proses yang panjang. Mulai dari mengenalkan huruf per huruf hingga bagaimana memahami kandungannya secara benar. Baik dilakukan secara mandiri maupun melalui lembaga pendidikan Al-Quran.
Orang tua memberikan pemahaman dan menjadikan al-Qurβan sebagai sumber kebenaran dan pendoman hidup untuk anak. Kita juga memberikan pemahaman bahwa salah satu yang bisa mendatangkan kecintaan Allah adalah membaca al-Quran dengan khusyuk, memperhatikan tafsirnya dengan seksama, merenungkan maknanya, dan diimani syariatnya. Anak sholih tidak boleh menelantarkan al-Quran dan hanya menjadikan sebagai hiasan rak perpustakaan, atau dekorasi dinding masjid atau dinding rumah.
7. Mengajarkan Anak Suka Berdzikir
Berdzikir kepada Allah akan membuat seorang hamba dekat dengan Rabbnya. Dzikir membuat mental menjadi tangguh, jiwa menjadi tenang, dada menjadi lapang, dan hati menjadi tentram. Anak diajarkan dan dibiasakan berdzikir baik secara lisan, hati atau lisan yang dibarengi dengan hati. Orang tua juga memberikan pemahaman bahwa dzikir adalah makanan rohani, penawar hati, peneduh jiwa dan mendatangkan kecintaan, keridhaan dan pertolongan Allah, bahkan pahala surga bisa diraih dengan dzikir kepada Allah. Dzikir merupakan ibadah yang sangat dicintai Allah, sangat mudah diucapkan di lisan dan sangat berat dalam timbangan amal.
Anak harus dibiasakan mengisi dan memanfaatkan umur untuk dzikir baik dengan dzikir yang tidak terkait dengan waktu dan tempat. Ataupun dzikir yang terkait dengan waktu atau tempat seperti dzikir pagi dan sore, dzikir masuk dan keluar rumah, dzikir masuk dan keluar masjid, dzikir setelah shalat lima waktu, dzikir hendak makan dan minum, dzikir setelah makan dan minum, dzikir masuk dan keluar dari WC, dzikir mau tidur dan dzikir bangun tidur, dzikir naik kendaraan, dzikir ketika safar, dan yang lainnya.
Demikian pembahasan tentang 7 cara membentuk karakter anak sholih. Teriring doa βYa Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pandangan mata yang menyejukkan dari para istri dan anak keturunan kami, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.β Hal paling penting dalam mendidik anak tentunya adalah keteladan orang tua. Karena pendidikan terbaik adalah melalui teladan yang baik. Semoga bermanfaat. (Disarikan dari Buku Golden Ways Anak Sholeh)
