Home Artikel Mengenal Cara Belajar Anak Sesuai Tahapan Usia

Mengenal Cara Belajar Anak Sesuai Tahapan Usia

by Umi Aga

Mengenal cara belajar anak sesuai tahapan usia. Sejalan dengan perkembangan dalam semua aspek terutama fisik, anak-anak terus belajar. Sangat penting orang tua mengetahui bagaimana anak belajar, agar proses ini tidak dilewatkan apalagi digantikan dengan cara belajar menurut definisi sempit orang tua. Selain itu orang tua akan lebih menghargai pencapaian anak-anak.

Banyak hal terjadi ketika anak-anak bermain. Si kecil mengangkat, menjatuhkan, menuangkan, meloncat, bersembunyi, membangun, meruntuhkan, dan masih banyak lagi. Mereka mempelajari konsep-konsep ilmiah, seperti benda apa yang tenggelam dan mengapung. Mempelajari konsep matematis, seperti bagaimana menyeimbangkan balok untuk membangun menara. Serta belajar keterampilan berbahasa, seperti mencoba kosakata baru atau bercerita sembari bermain peran.

Dan ketika anak-anak bermain dengan kita, mereka juga belajar bahwa mereka dicintai, diterima, dan disukai. Tak ada batasan waktu kapan anak-anak tidak perlu lagi ditemani bermain. Kebersamaan berkualitas dengan orang tua membantu peningkatan kecakapan sosial dan emosional anak-anak. Kecakapan ini menumbuhkan kepercayaan dan harga diri yang dibutuhkan untuk terus membangun hubungan penuh cinta dan dukungan sepanjang hidup mereka.

Belajar di Usia 0-1 Tahun

Saat masih bayi, anak-anak menjelajahi dunia fisik dan sosialnya melalui panca indranya. Kita dapat memfasilitasi pembelajarannya dengan menyediakan kesempatan untuk melihat, mendengar, menyentuh, mengecap, dan mencium pelbagai fenomena.

Kulit tangan menjadi indra pengenal lingkungan yang penting, di samping mata dan telinga. Sejak bisa menggenggam, bayi akan meraih apa pun untuk dipegang. Pada tahap ini, kita dengan senang hati menyediakan segala macam mainan yang membangkitkan keingintahuannya. Untuk eksplorasi lebih jauh, dia diberi pelbagai benda dengan tekstur berbeda. Tangan memegang, otaknya bekerja keras menyimpan pelbagai informasi.

Baca juga: Mengenal 4 Tahap Perkembangan Anak

Setelah itu, tak cukup dengan memegang apa yang ada di tangan akan dimasukkannya ke mulut. Diisap dan digigitnya benda apa pun yang bisa ditemukan. Kita sudah pasti membuat tahapan belajar ini tidak hanya menyenangkan, tetapi juga aman bagi si kecil. Benda-benda berbahaya kita singkirkan. Dan ketika si kecil telanjur memegang sesuatu yang bukan mainannya, seperti botol parfum, kita tidak membentaknya. Dengan hati-hati, agar si kecil tidak menangis, kita akan berusaha mengganti botol itu dengan mainan yang aman. Kita pun tidak menceramahi si kecil tentang betapa berbahayanya botol itu jika pecah. Menghadapi si kecil yang baru belajar dengan tangan dan mulutnya, Kita luar biasa sabar dan banyak memaklumi.

Belajar di Usia Batita (Bawah Tiga Tahun)

Pada usia batita (bawah tiga tahun), anak-anak mulai mengembangkan kemampuan untuk terlibat dalam permainan pura-pura yang sederhana, menirukan peristiwa keseharian dalam hidupnya. Batita mengalami emosi-emosi kuat yang belum sepenuhnya mereka pahami. Dengan memerankan adegan-adegan bermuatan emosi dalam permainan mereka, seperti meyakinkan boneka bahwa Bunda akan pulang segera, batita belajar mengatasi rasa takut. Dengan cara ini, mereka memperoleh kendali diri yang akan mengantarkan mereka ke tahap perkembangan selanjutnya.

Batita Kita juga mengamati sekelilingnya dengan keingintahuan lebih besar. Jika waktu bayi dulu, tanpa sengaja dia meraih botol parfum yang Kita tinggalkan di tempat tidur, lalu membawanya ke mulut, kini dia lebih bertujuan.Β  Anak mengamati Kita menggunakan parfum itu. Dia akan mencoba meraihnya dari meja rias Kita. Dia akan membuka botol itu dan meniru Kita menggunakannya dengan mengguyurkan isinya ke tubuhnya. Barangkali pada tahap inilah, orang tua umumnya mulai kehilangan toleransi akan jalur perkembangan normal. Kekhawatiran Ayah Bunda akan keselamatan anak-anak menjadi alasan utamanya.

Keinginan batita untuk mandiri begitu kuat, tapi sering belum didukung kecakapan fisik memadai. Dia berlari, memanjat, melompat, menjelajah, meraih apapun, dan mencoba segala hal. Ayah Bunda cemas kalau-kalau anak terluka. Laranganpun berhamburan keluar. Jangan lari-lari, jangan memanjat, jangan ambil itu, jangan pegang ini, dan seterusnya. Tanpa disadari ini merupakan pengekangan dan penghambat belajar.

Selain kekhawatiran, harapan berlebihan juga memunculkan larangan. Orangtua berharap batitanya sanggup duduk tenang lama, bisa beradaptasi, mengendalikan diri, tidak takut di lingkungan baru, atau ramah kepada orang lain. Seolah semua itu merupakan hal otomatis yang tidak perlu dipelajari. Tekanan terbesar kepada batita adalah ketika orangtua mengharapkannya bersikap seperti β€œanak besar”. Mungkin karena sudah mempunyai adik, dia harus menjadi kakak yang baik-bagi adik bayinya.

Mengenal Cara Belajar Anak Sesuai Tahapan Usia

Mengenal Cara Belajar Anak Sesuai Tahapan Usia

Belajar di Usia Balita (Bawah Lima Tahun)

Setelah anak-anak memasuki usia prasekolah dan taman kanak-kanak, mereka mulai menjelajahi dunia melalui pengalaman tidak langsung, seperti cerita-cerita, gambar-gambar, dan acara televisi. Informasi yang diperoleh dengan cara ini menjadi basis untuk permainan imajinatif yang membawa anak-anak melampaui di sini dan sekarang.

Pada tahap ini, kegiatan bermain seperti menggambar, membangun dengan balok, menari, main musik, dan membuat hasta karya membantu anak-anak mengembangkan pengetahuan mereka dan pemahaman tentang dunia sembari mereka mengembangkan koordinasi mata tangan dan keterampilan motorik lainnya. Anak-anak juga menjadi semakin terfokus kepada teman-teman sebaya saat ini. Mereka mendapatkan manfaat dari kegiatan bermain, alat peraga, dan mainan yang mendorong mereka untuk berinteraksi dengan teman-temannya melalui permainan pura-pura.

Namun pada usia balita, jalur pembelajaran normal adakalanya diselewengkan pula oleh orangtua. Kali ini bukan akibat kekhawatiran, melainkan akibat keinginan orang tua yang menggebu-gebu untuk melihat anaknya sukses, menonjol, lebih dari kawan-kawan sebayanya. Didukung pendapat pakar bahwa lima tahun pertama merupakan golden age, ketika otak anak berkembang pesat, sanggup mempelajari apa saja dengan singkat, orangtua ingin melejitkan potensi anaknya semaksimal mungkin. Tapi, yang terjadi umumnya adalah overstimulasi.

Jika tidak cermat memperhatikan perubahan perilaku dan kejiwaan anak, orang tua tidak akan menyadari bahwa mereka telah membebani anak secara berlebihan dan merampoknya dari masa kecil normal yang bahagia. Di lain pihak, sebagian anak dibiarkan berkembang tanpa stimulasi positif. Televisi, video game, dan game komputer, menjadi satu-satunya sarana pembelajaran mereka.

Belajar di Usia Sekolah Dasar

Setelah anak duduk di sekolah dasar, fokus bergeser dari permainan pura-pura ke permainan dengan aturan dan olahraga terorganisasi yang membutuhkan strategi dan keterampilan. Permainan dengan aturan mencakup permainan papan tradisional, kartu, juga permainan fisik, seperti petak umpet. Melalui pengalaman bermain ini, anak-anak mengasah kemampuan mereka untuk berhubungan dengan orang lain, menggunakan keterampilan motorik dan koordinasi mata dan tangan.

Baca juga: 8 Cara Berbakti Saat Orang Tua Masih Hidup

Pada usia 9-12 tahun, olahraga tim menjadi semakin penting, membantu anak-anak meningkatkan kemampuan mereka untuk berpikir secara strategis dan berinteraksi dengan orang lain. Mereka juga menghaluskan keterampilan ini melalui kegiatan bermain, seperti membuat hasta karya, membangun building set yang lebih rumit, dan memecahkan teka-teki gambar yang lebih rumit. Dalam banyak contoh, kegiatan bermain pada usia ini menjadi basis untuk minat dan hobi seumur hidup. Tuntutan akademis dari orangtua dan sekolah hendaknya tidak merenggut hak mereka untuk belajar secara alami.

Belajar di Usia Remaja

Pada usia ini, anak-anak mengurangi bermain dalam artian tradisional. Mereka mulai mengikuti minat dan hobi mereka dengan lebih serius. Namun, mereka juga mudah terpengaruh oleh teman. Peer pressure memengaruhi pilihan mereka, cara dan mode berpakaian, olahraga yang diikuti, hobi yang ditekuni, dan teman-teman untuk bergaul. Mereka belajar membuat keputusan yang lebih rumit, tidak lagi sekadar mau pakai sepatu untuk ke sekolah, melainkan apakah aku ikut membolos bersama teman-teman. Mereka belajar dari konsekuensi yang mereka dapatkan untuk setiap keputusan mereka.

Orang tua sering menyatakan bahwa mendidik remaja adalah tugas yang paling sulit. Namun bagi remaja sendiri, menjadi remaja saja sudah menyulitkan. Perubahan hormon membuat segalanya tidak sederhana lagi. Tak perlu ditambah omelan dan celaan orang tua yang membuat mereka jadi serba salah. Bantu mereka mempelajari dan memahami diri mereka sendiri. Dan itu hanya akan terjadi di rumah yang penuh kedamaian dan orang tua yang penuh pengertian.

Nasihat paling bijak untuk orang tua yang memiliki anak remaja barangkali adalah pick your fight. Pilih-pilih alasan kalau ingin bertengkar dengan remaja, dan hindari cari-cari masalah dengannya, karena tak perlu semua hal dijadikan alasan pertengkaran. Sebab akan banyak masalah besar menghadang jika pola asuh kita sudah keliru sejak dia kecil. Kaos kaki dan baju kotor yang bertebaran di kamar mungkin bisa dianggap bukan masalah dibandingkan terlibat tawuran.

Sebagian orang tua beruntung memiliki remaja yang tumbuh terjaga dalam sikap dan perilakunya. Mengenalkan anak terhadap nilai-nilai agama, moral dan akhlaq menjadi kunci utama dan menjadi pondasi dalam perkembangan hidup anak. Tidak hanya mengenalkan, kewajiban-kewajiban dalam menjalankan perintah agama harus ditekankan dan diprioritaskan. Selain itu, doa orang tua berperan sangat besar. Tidak hanya mendidik secara dzohir, orang tua juga harus cakap dalam memberikan pendidikan spiritual keagamaan. Bersyukurlah dan tetap perbaiki pola asuh menuju keluarga yang sholih. (Dikutip dari Buku Yuk Jadi Orang Tua Shalih! – Penerbit Mizan)

0 comment

You may also like

Leave a Comment