Peduli Anak Yatim Piatu dan Jaminan Surga. Awal tahun 2022 media melaporkan bahwa ada 32.216 anak-anak Indonesia menjadi yatim piatu karena Pandemi Covid-19. Angka ini tentu saja masih bisa bertambah, mengingat pemeritah belum menyatakan Pandemi berkahir. Data dan fakta ini tentu saja membuat hati kita pilu. Sebagai sesama anak bangsa, tentu saja kita harus ikut berperan serta dan menaruh kepedulian terhadap mereka dengan mengasihi, menyantuni dan memuliakannya.
Anak-anak yatim piatu ini adalah aset umat, bangsa dan negara Indonesia. Jika mereka terus terkatung-katung menjadi pengangguran tentu ke depan akan semakin menjadi beban besar kita semua, baik kita sadari maupun tidak kita sadari.
Ukhuwah Islamiyah di antara kita harus juga mampu memberikan kepedulian bahkan jawaban akan tantangan kehidupan yang terjadi belakangan ini.
Kepedulian terhadap anak yatim adalah amal yang sangat mulia. Dalam pandangan Islam peduli anak yatim memiliki nilai pahala yang tinggi. Bahkan mendapatkan jaminan surga dari Allah dan Rasulullah Saw. Sebagaimana dalam sebuah hadist, “Aku dan orang yang menanggung anak yatim berada di surga seperti ini, ”Beliau mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah serta merenggangkan sedikit di antara keduanya. (HR. Bukhari).
Optimis dan Jangan Pesimis
Sebagai umat muslim, kita tidak boleh pesimis dan harus optimis menghadapi permasalahan hidup. Sungguh Allah tidak menguji kita semua, melainkan dengan batas kemampuan, kesanggupan yang telah Allah perhitungkan dengan sebaik-baiknya. “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al- Baqrah: 286).
Menurut Tafsir Al-Mukhtashar, karangan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid (Imam Masjidil Haram), Islam adalah ajaran yang dibangun di atas asas kemudahan, sehingga tidak ada sesuatu yang memberatkan di dalamnya. Barangsiapa berbuat baik, dia akan mendapatkan ganjaran atas apa yang dia lakukan, tanpa dikurangi sedikitpun. Dan, barangsiapa berbuat buruk, dia akan memikul dosanya sendiri, tidak dipikul oleh orang lain.
Baca juga: 6 Kiat Jitu Memilih Sekolah untuk Anak
Kita harus mengedepankan sikap saling peduli, optimis serta yakin bahwa Allah telah memberikan ujian ini agar kita saling peduli. Kepedulian yang didasari tidak hanya atas dasar ajaran agama, tetapi juga berdasarkan kemanusiaan dan nasib sesama anak bangsa. Kepedulian atas dasar agama dengan sikap rendah hati kepada sesama insan beriman.
Allah Swt telah berfirman dalam QS. Al-Hijr ayat 88: “Dan berendah hatilah kamu terhadap orang-orang yang beriman.” Ayat ini mendorong kita untuk saling bersikap rendah hati dan lemah lembut. Dan, itu berarti kita harus memahami dan melaksanakan serta menguatkan budaya hidup saling rendah hati yang dengan itu muncul rasa saling mengasihi, peduli dan tentu saja bersemangat dalam membantu kesulitan saudara seiman.
Wujud Kepedulian Terhadap Anak Yatim Piatu
Lantas bagaimana kita mewujudkannya, terutama kepada anak-anak yatim piatu, maka sungguh Allah telah memberikan panduan yang jelas. “Adapun terhadap anak yatim janganlah engkau berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang meminta-minta janganlah Engkau menghardik.” (QS. Adh-Dhuha: 9-10).
Dalam kitab Syarah Riyadhus Sholihin karya Imam An-Nawawi dijelaskan bahwa harus kita ingat masa kecil Muhammad SAW adalah anak yatim piatu. Allah yang menjaganya. Oleh karena itu jangan mencaci, menghardik dan menghinakan anak yatim. Tetapi berbuat baik dan berlemah lembutlah engkau kepadanya. Dan sebagaimana engkau (Nabi Muhammad) dahulu adalah orang miskin yang dicukupkan oleh Allah, maka janganlah engkau menjadi orang yang angkuh lagi sombong, dan jangan pula menjadi orang yang suka berbuat keji serta bersikap kasar terhadap hamba-hamba Allah yang lemah.
Baca juga: 8 Tips Sukses Berbakti Kepada Kedua Orang Tua
Perintah dalam ajaran Islam bukan sebatas himbauan, tapi satu amalan yang harus dipahami dan dijalankan dengan sebaik-baiknya. Sebab siapa yang tidak menghiraukan, tidak mengindahkan dan tidak melaksanakan, sungguh ada ancaman dari Allah SWT langsung, bahwa orang yang demikian adalah orang yang mendustakan agama.
“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Maka itulah orang-orang yang menghardik anak-anak yatim, dan tidak mendorong memberi makan orang miskin. Maka celakalah orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya, yang berbuat, ria, dan enggan (memberikan) bantuan ” (QS. Al-Ma’un: 1-3).
Dengan demikian, mari tegap berdiri kedepankan sikap untuk memelihara iman diri dan keluarga dengan mengamalkan apa yang Allah perintahkan satu di antaranya mengasihi anak yatim, orang lemah dan orang miskin. Bentuk kepedulian bisa kita salurkan melalui Lembaga Amil Zakat atau pun lembaga-lembaga sosial terpercaya semacam Yayasan Rumah Yatim, Yayasan Yatim Mandiri, dll. Sekalipun ini tidak membatasi untuk kita yang berkeinginan kuat langsung bertemu, menyapa dan membelai rambut anak-anak yatim piatu yang bisa kita jangkau.
