Home Artikel Istri adalah Anugerah dan Nikmat Allah

Istri adalah Anugerah dan Nikmat Allah

by Umi Aga
Istri adalah Anugerah dan Nikmat Allah

Istri adalah Anugerah dan Nikmat Allah Swt sebagai pelindung dan penenang suami serta tempat suami mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan. Anugerah dan nikmat besar ini acapkali terlupakan. Bahkan tidak jarang, laki-laki menganggap wanita hanya sebagai pembantu bahkan menjadi beban kehidupan.

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum: 21). “Dialah yang menciptakan kamu dari jiwa yang satu (Adam) dan daripadanya Dia menciptakan pasangannya, agar dia merasa senang kepadanya” (QS. Al-A’raf: 189)

Kehidupan di dunia akan terasa hampa, gersang, dan menyiksa tanpa hadirnya kesenangan (mut’ah). Oleh karenanya hikmah Allah Ta’ala menghendaki semua yang berinsting akan tetap eksis dengan adanya kesenangan. Merenungkan hikmah ini akan menjadikan manusia mengetahui tujuan dari hikmah tersebut. Akan tetapi kesenangan bukanlah tujuan yang sebenarnya. Kesenangan merupakan media untuk menggapai tujuan mulia.

Tujuan Diciptakannya Istri

Di masa lalu, wanita menjadi makhluk rendah yang tidak bernyawa. Wanita bukan untuk menjadi pasangan hidup (istri). Hingga akhirnya, dalam sebuah konferensi di Perancis tahun 586 M, status wanita baru menjadi manusia dan layak jadi teman hidup untuk membantu laki-laki.

Islam datang dengan ajaran-ajaran mulianya. Ayar-ayat mulia ini memancarkan cahaya kelembutan, membangkitkan kejujuran dan kekuatan. Dua ayat di atas, Surat Ar-Rum: 21 dan Al-A’raf: 189, menetapkan bahwa wanita adalah salah satu tanda kekuasaan-Nya. Allah Ta’ala menciptakan wanita dari bagian diri laki-laki, bukan dari tanah liat yang lain.

Baca juga: Tips Manjur Agar Keluarga Bahagia

Allah Ta’ala menciptakan wanita untuk menjadi istri, partner hidup laki-laki dan bukan untuk dijadikan pembantu. Allah Swt telah berfirman, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri”.

Istri adalah Anugerah dan Nikmat Allah Swt

Istri adalah Anugerah dan Nikmat Allah Swt

Istri tercipta agar supaya laki-laki merasa tenang saat berada di sisinya. Rasa tenang adalah masalah jiwa dan rahasia hati. Dalam rasa tenang, manusia menemukan kebahagiaan. Rasa tenang dan kebahagiaan adalah bagian dari kebutuhan moral yang tidak dapat seseorang temukan kecuali bersama seorang wanita di sisinya.

Istri Pelindung dan Penenang Suami

Dalam dua ayat di atas, Al Quran meletakkan dasar kehidupan yang penuh kasih sayang, kebahagiaan dan ketenangan. Istri menjadi pelindung suami, tempat berteduh setelah melakukan aktivitas mencari nafkah seharian. Dia menjadi tempat mengadu yang menyenangkan setelah bekerja keras dan benjir peluh seharian. Dan Istri sebagai pakaian atau baju suami. Dalam Tafsir Nawawi menjelaskan makna pakaian bagi pasangan suami istri yaitu saling menutupi keburukan di antara keduanya. Pasangan suami istri tidak boleh membeberkan keburukan masing-masing kepada orang lain. Bahkan kepada orang tua sendiri.

Di akhir hari perjuangan penuh kelelahan, suami mendapatkan perlindungan di sisi istrinya. Sambutan istri di depan pintu, menjemput kepulangan suami dengan penuh kebahagiaan, wajah ceria penuh canda tawa. Di saat itulah, sang suami mendapati pribadi yang mau mendengar keluh kesahnya dengan penuh perhatian. Hati istri yang penuh kasih sayang, perkataan yang lembut dan manis akan mampu meringankan dan menghilangkan beban di pundak suami.

Baca juga: 5 Tujuan Menikah Yang Wajib Diketahui

Istri adalah penenang bagi suaminya. Sang suami menaruh kepercayaan kepada istri dalam menghilangkan dahaga kasih sayang dan perhatian. Di bawah naungan cinta dan kesucian hati, akan menghindarkan suami dari perbuatan tercela dan perilaku haram perzinahan. Suami terhindar dari lumpur dosa dan kehinaan dalam atmosfir kesalahan.

Yang menjadi pertanyaan, apakah wanita yang full time bekerja di luar rumah dalam waktu lama, dengan pekerjaan yang menumpuk, akan mampu menunaikan tugasnya menghibur dan menemani suaminya? Akankah dia mampu meringankan kegelisahan dan beban suaminya? Pertanyaan ini tentu saja akan menuai pro dan kontra sesuai dengan situasi kondisi dan kepentingan masing-masing pasangan.

*Dikutip dari Buku Keluarga Sakinah Mawaddah Warahmah karya Mahmud Mahdi Al-Istanbuli

0 comment

You may also like

Leave a Comment