Home Artikel 8 Cara Berbakti Saat Orang Tua Masih Hidup

8 Cara Berbakti Saat Orang Tua Masih Hidup

by Umi Aga
8 Cara Berbakti Saat Orang Tua Masih Hidup

8 Cara Berbakti Saat Orang Tua Masih Hidup. Islam memberi kesempatan anak untuk berbakti kepada orang tuanya ketika keduanya masih hidup.Islam menempatkan orang tua pada derajat yang sangat mulia. Serta memberikan ancaman kepada anak yang mendurhakai keduanya. Birul walidain untuk memastikan dan memberikan perlindungan harga diri orang tua dan jaminan hak-haknya secara sempurna.

Berbakti kepada kedua orang tua atau birrul walidaian termasik amalan berpahala sangat besar. Jaminannya adalah surga. Nah, bagaimanakah cara kita berbakti kepada orang tua ketika orang tua kita masih hidup. Simak ulasannya pada tulisan berikut ini.

1. Mengajak masuk Islam

Mengajak orang tua masuk Islam merupakan kewajiban anak saleh kepada kedua orangtuanya. Para nabi termasuk Nabi Ibrahim senantiasa mendakwahi ayahnya yang seorang pembuat berhala dan Nabi Muhammad mendakwahi pamannya agar masuk Islam. Begitu juga dilakukan para sahabat seperti Abu Hurairah yang mengajak ibunya agar masuk Islam.

Setelah agama Islam diturunkan kepada Rasulullah, maka agama yang benar hanyalah Islam dan tidak akan diterima ibadah seorang hamba kalau tidak memeluk agama Islam. Dalam konteks kekinian mengajak memeluk atau masuk Islam tentu saja harus memperhatikan rambu-rambu atau peraturan yang berlaku, tidak melakukan paksaan, dan memberikan contoh teladan terbaik, agar masuk Islamnya karena kesadaran diri.

2. Mendakwahinya dengan pemahaman yang benar

Mendakwahi orangtua dengan pemahaman yang benar, apalagi saat mereka terjerumus kedalam lembah kesyirikan, tahayul, khurafat dan bidah, sangat ditekankan. Berdakwah kepada orang tua harus berbekal dengan akhlak mulia, cara hikmah dan kelembutan, karena setiap orang lebih senang dengan kelembutan daripada tabiat yang kasar. Soal hasil kita serahkan kepada Allah, karena hanya Allah yang mampu memberikan hidayah kepada hamba-Nya.

Baca juga: 8 Tips Sukses Berbakti Kepada Kedua Orang Tua

Sepandai dan sepintar apapun kita, di hadapan orang tua terkadang kita tetap dianggap sebagai anak kecil. Kondisi psikologis ikatan antara anak dan orang tua yang semacam ini seringkali menjadi penghambat untuk menyampaikan kebaikan. Hal seperti ini bisa kita siasati dengan cara mengajaknya mengikuti dan mendatangi majelis kajian Islam. Ataupun bisa juga dengan memberi saran tontonan baik di televisi ataupun media online tentang dakwah Islam.

3. Menaati perintah mereka asal bukan untuk maksiat

Masih ingatkah kisah Juraij? Juraij mengabaikan panggilan ibundanya di saat ia sedang mengerjakan ibadah sunah. Ibunya murka dan akhirnya Allah takdirkan musibah menimpanya karena murka orangtuanya. Karena itu setiap anak wajib menaati perintah orang tuanya. Mengutamakan hajatnya dibanding ibadah nafilah. Ingat juga, murka Allah tergantung murka orangtua, keridhaan Allah tergantung ridha keduanya. Maka jangan remehkan seruan orangtuamu dan jangan telantarkan hajat dan kebutuhan mereka.

Dan Hasan pernah ditanya tentang birrul walidain. Beliau menjawab, “Hendaklah kamu memberi sesuatu dari hartamu dan kamu menaati apa yang diperintahkan oleh orang tuamu selagi tidak dalam rangka bermaksiat kepada Allah.” Memang terkesan berat, apalagi kalau kita memiliki keluarga sendiri dan juga memiliki keterbatasan materi. Tetapi kita harus yakin, di balik ketaatan kepada Orangtua, ada hikmah dan berkah yang luar biasa besar.

4. Mendahulukan kepentingan Orang Tua

Hendaklah kita lebih mementingkan urusan orangtua sebelum urusan diri dan keluarganya. Bahkan Rasulullah Saw bersabda, “Janganlah kamu memanggil orang tuamu dengan namanya, jangan berjalan di depannya dan jangan duduk sebelumnya.” (HR. Bukhari).

Termasuk mendahulukan kebutuhan dan keperluan hidupnya apalagi di saat orang tua sangat membutuhkan pertolongan, maka tidak boleh menolaknya. Karena mendahulukan kepentingan orangtua sebagai wujud bakti tulus, penghormatan, dan pengabdian seorang anak yang harus senantiasa ditumbuhkan.

Inilah 8 Cara Berbakti Saat Orang Tua Masih Hidup

Inilah 8 Cara Berbakti Saat Orang Tua Masih Hidup

5. Menafkahi dan membantu orang tua

Sesungguhnya seluruh harta milik anak menjadi milik orangtuanya. Maka orangtua boleh mengambil harta anaknya untuk memenuhi kebutuhan hidup secara wajar. Sehingga ketika Urwah menafsirkan Firman Allah, “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang.” (Al-Isra: 24). Rasulullah Saw berkata, “Jangan kamu menghalangi sesuatu yang disukai oleh kedua orang tua.” (HR. Bukhari)

Maka tidak ada alasan bagi anak untuk bersikap bakhil kepada orangtuanya. Apalagi di saat keduanya sangat membutuhkan bantuan. Dan perlu dipahami bahwa anak tak akan nyaman hidup menikmati kemakmuran dan kemewahan sementara orangtuanya hidup serba pas-pasan bahkan kekurangan.

6. Bersikap Santun dan lemah-lembut

Memuliakan orangtua dan bersikap santun merupakan perkara yang membuat mereka berbahagia dan amalan berbalas surga buat anak. Dengan cara menghormati, berlaku sopan-santun dan lemah-lembut kepadanya membuat mereka bernafas lega. Karena ketika seorang datang kepada Nabi yang berbaiat untuk hijrah dan kedua orang tuanya ditinggal dalam keadaan menangis, maka beliau bersabda, “Kembalilah kepada kedua orang tuamu dan buatlah di tertawa yang sebelumnya kamu telah membuat keduanya menangis.” (HR. Bukhari)

Hindari perkataan yang lebih tinggi dari suara orangtua, memanggil nama aslinya, marah atau menggerutu dengan mengucapkan kata-kata kotor atau ucapan pedas menusuk perasaan. Seorang anak tidak semestinya membantah atau berdebat dengan orangtua dengan kata-kata kasar atau nada tinggi, karena membuat orangtua sakit hati.

7. Mendoakan Kebaikan

Setiap anak harus selalu memanjatkan doa untuk kedua orangtuanya, baik terkait dengan kebaikan dunia dan kebaikan akhirat. Misalnya agar orangtuanya mendapatkan hidayah sebagaimana yang telah dianjurkan Allah dalam firman-Nya: “Dan ucapkanlah, Wahai Tuhanku, kasihilah mereka berdua sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil” (Al Isra: 24).

Baca juga: Cara Merawat Rasa Cinta dalam Rumah Tangga

Di antara para ulama ditanya tentang birrul walidain maka beliau berkata: Janganlah engkau berbicara dengan nada tinggi di depan keduanya, janganlah kamu menajamkan pandangan ke arah keduanya, janganlah kedua orang tuamu mendapatimu bahwa kamu pernah menentang perintah keduanya baik secara dhahir maupun batin, dan hendaknya kamu menyayangi keduanya ketika masih hidup, mendoakan keduanya ketika telah wafat, dan membantu teman-teman orang tuamu setelah keduanya wafat.

Seorang Muslim harus senantiasa menjaga lisannya dari ucapan buruk termasuk ketika saat berdoa. Karena ucapan dan kalimat buruk akan menjerumuskan ke dalam kerugian, yang bisa menimpa diri sendiri maupun orang lain. Karena bisa saja dalam sekejap atau di kemudian hari ucapan itu akan dikabulkan oleh Allah Yang Maha Kuasa.

8. Meringankan Beban dan Kewajibannya

Seorang Muslim harus mampu meringankan beban orangtuanya baik dalam keadaan sehat maupun sakit, dan membantu mereka dalam kebaikan. Rasulullah bersabda, “Tidaklah seorang anak bisa membalas kebaikan orang tua kecuali bila mendapati orang tuanya menjadi budak kemudian dibeli dan dimerdekakan” (HR. Bukhari). Imam Fudhail bin Iyath berkata, Janganlah kamu sekali-kali merasa malas ketika sedang melayani kedua orang tuamu.”

Bila mereka menanggung utang, seharusnya seorang anak wajib melunasinya. Saat mempunyai tugas yang bisa diwakilkan, sementara orangtua menugaskannya, maka anak wajib melaksanakan. Misalnya, kerja bakti, tugas ronda, hutang dengan keluarga atau perusahaan atau mewakilinya ke pengadilan atau datang ke instansi bila orangtua uzur. Karena tidak mungkin, saat si anak tidur pulas di ranjang yang empuk, sementara di luar rumah, di tengah malam, bapaknya kedinginan dan menjadi santapan nyamuk.

Demikianlah cara berbakti kepada orang tua ketika masih hidup. Tentu saja pelaksanaanya disesuaikan dengan kemampuan. Dilaksanakan sebaik-baiknya, bukan sekedarnya. Penuh keikhlasan tanpa keterpaksaan. Orang tua-pun harus memahami sejauh mana kesanggupan dan kemampuan anak. Tidak memaksakan di luar kemampuan dan kesanggupan anak. Jangan sampai ibadah mulia birul walidain justru membawa kesengsaraan di salah satu pihak. Harus dipenuhi keridhoan antar keduanya. Hindarkan keduanya dari istilah anak durhaka maupun orang tua durhaka. (Disarikan dari Buku Golden Ways Anak Sholeh, dengan tambahan sekadarnya)

0 comment

You may also like

Leave a Comment