Home Kisah Hikmah Kisah Perjuangan Melawan TBC Resisten Obat

Kisah Perjuangan Melawan TBC Resisten Obat

by Umi Ririn
Kisah Perjuangan Melawan Tuberculosis Resisten Obat

Kisah Perjuangan Melawan TBC Resisten Obat – Positif terkena penyakit Tuberkulosis (TB) memang bisa merubah aktifitas kehidupan seseorang. Berikut ini adalah kisah Khoirin Nida’, S.Si, eks pasien TB Resisten Obat yang telah sembuh. Mengisahkan bagaimana perjalanannya dalam menjalani pengobatan, kekhawatiran, hingga semangatnya.

Kini, ia adalah salah satu PATRIOT (Pejuang Anti Tuberkulosis Resisten Obat) yang gigih menjadi pendamping sebaya. Dan ia ingin membagi semangatnya untuk kita semua. Sebagaimana yang dimuat dalam Buletin Perfect, Edisi 19 tahun 2019, terbitan Humas Rumah Sakit Paru dr. Ario Wirawan (RSPAW) Salatiga. Berikut ini petikan wawancaranya.

Kisah Perjuangan Melawan TBC Resisten Obat

Kisah Perjuangan Melawan TBC Resisten Obat

Apakah ada diskriminasi dari masyarakat?

Pada kasus saya, Alhamdulillah tidak ada diskriminasi. Saudara, tetangga, dan warga lingkungan sekitar bersikap biasa saja dan memperlakukan saya dengan baik. Selayaknya kehidupan di desa, mereka datang menjenguk, menyemangati, dan mendo’akan kesembuhan saya.

Ada dua kemungkinan kenapa hal ini bisa terjadi. Pertama, karena masyarakat belum mengetahui dan memahami resiko tertular penyakit Tuberculosis Multi Drugs Resistant (TB-MDR). Kedua, penyakit paru-paru dianggap sebagai sakit batuk biasa. Penyakit yang bisa disembuhkan.

Bagaimana sikap petugas puskesmas?

Sikap petugas puskesmas beragam, tapi secara umum baik. Selama menjalani pengobatan di Puskesmas Mijen 1 Demak, petugasnya sangat respect (menghargai) dan care (peduli). Keluhan, permintaan, kritik, dan saran dari pasien serta keluarga selalu diperhatikan.

Salah satu contohnya, permintaan pengobatan injeksi selama 8 bulan dilakukan oleh petugas wanita, dipenuhi oleh manajemen puskesmas. Salut!!! Petugas puskesmas juga melakukan kunjungan dan penyuluhan ke rumah pasien. Hal inilah yang membuat saya bersemangat menjalani pengobatan dan bertekad untuk sembuh.

Bagaimana dengan pekerjaannya?

Sebelum sakit, saya adalah pengajar di KB-RA Yaa Bunayya Mlaten Demak. Semenjak dinyatakan positif TB MDR, saya resign dari pekerjaan. Semata-mata agar fokus menjalani pengobatan dan untuk mengurangi interaksi serta meminimalisir peluang penularan TB MDR terhadap orang sekitar.

Bagaimana cara tiap hari ke Puskesmas?

Setiap hari ke Puskesmas dengan naik sepeda motor diantar suami. Jarak rumah ke puskesmas +/- 8 km, dengan waktuh tempuh sekitar 20 menit. Keuntungan berkendara motor, selain lebih efektif dan efisien, bisa sekaligus melakukan Helioterapi (terapi sinar matahari pagi).

Kisah Perjuangan Melawan TBC Resisten Obat

Kisah Perjuangan Melawan TBC Resisten Obat

Bagaimana dengan pekerjaan suami? Apakah ada ketakutan anak dan suami tertular?

Kurang lebih 1 tahun, suami cuti dari pekerjaannya sebagai pengajar di salah satu perguruan tinggi swasta di Surabaya. Tapi Alhamdulillah ada beberapa pekerjaan freelance media digital yang bisa dikerjakan dari rumah. Kekhawatiran keluarga tertular pasti ada. Apalagi mereka setiap hari berinteraksi dan berkumpul dalam satu rumah. Sebagai langkah antisipasi selama masa isolasi dan pengobatan, saya selalu memakai masker dan menggunakan kamar tersendiri.

Apa yang paling ditakuti kemungkinan efek samping pengobatan yang akan dialami?

Efek samping pengobatan yang saya rasakan banyak. Yang paling sering adalah rasa nyeri di tulang persendian, badan gemetar, mual hebat, muntah-muntah, perut terasa begah, susah tidur, dan cepat lelah.

Efek samping terberat adalah asam urat tinggi, telapak kaki terasa tebal dan nyeri menyebabkan susah berjalan. Efek samping yang paling dikhawatirkan dan masih dirasakan sampai sekarang adalah gangguan pendengaran.

Bagaimana cara mencegah agar tidak kambuh lagi?

Menjalani pola hidup sehat. Istirahat yang cukup, olahraga teratur, mengkonsumsi makanan bergizi, menghindari stres, selalu berpikiran positif, menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Dan yang utama adalah senantiasa mendekatkan diri dan berdoa kepada Allah SWT agar diberikan kesehatan dan kehidupan yang lebih baik.

Mungkin ada lain hal yang akan disampaikan?

Penyakit TB MDR adalah penyakit yang bisa disembuhkan. Bagi pasien yang sedang menjalani pengobatan, yakinlah kesembuhan pasti akan datang. Teruslah semangat dan sabar dalam berobat. Kita yakin Allah pasti mendengar doa dan kesungguhan kita. Tetaplah tersenyum agar kita dapat mengisi kehidupan ini dengan kemampuan yang kita miliki dan berguna bagi sesama. Salam sehat untuk kita semua. Semoga Bermanfaat. *Khoirin Nida’ S.Si

Tulisan ini pernah dimuat pada Majalah Perfect RSPAW Salatiga, Edisi 19 Tahun 2019 dan www.patriotindonesia.org

0 comment

You may also like

Leave a Comment