Home Kisah Hikmah Kisah Pengabdian Mahasiswa di Tengah Suku Togutil

Kisah Pengabdian Mahasiswa di Tengah Suku Togutil

by Umi Aga
Kisah Pengabdian Mahasiswa di Tengah Suku Togutil

Kisah Pengabdian Mahasiswa di Tengah Suku Togutil – Namaku Nashirul Haq, asal Purwokerto Jawa Tengah. Aku Mahasiswa semester akhir di Sekolah Tinggi Agama Islam Luqman Al-Hakim (STAIL) Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya. Bulan Ramadhan masa pandemi Covid-19 lalu, aku mengabdikan diri berdakwah di pedalaman Halmahera, Kepulauan Maluku Utara. Tepatnya di wilayah masyarakat Suku Tugotil tinggal.

Pilihan menempuh jalan ini atas dasar keterpanggilan hati. Meski sejatinya kemampuan belum mumpuni. Tapi sekali lagi, panggilan hati dan kehendak Allah-lah yang menggerakkan langkah kakiku ke tempat ini.  Bagiku, pengalaman langsung di lapangan adalah guru yang terbaik. Meskipun pendidikan di bangku kuliah juga sangat penting. Tantangan dakwah di lapangan menurutku akan lebih menempa diri baik mental maupun spiritual.

Sebelumnya, beberapa senior alumni STAIL sudah banyak yang mendapat amanah mengabdi di sana. Salah satunya Ustadz Nurhadi. Dari cerita yang aku dengar dari beliau, dibutuhkan banyak tenaga dai untuk membina muallaf di daerah pedalaman Halmahera. Para dai dibutuhkan mengenalkan Islam, mengajarkan mereka al-Qur’an, sholat, dan kehidupan yang normal lazimnya masyarakat biasa.

Kehidupan Normal

Mungkin kita akan benar-benar akan terkejut dengan kondisi masyarakat suku Togutil. Para dai mengajari masyarakat suku Togutil yang masih hidup nomaden dan belum mengenal peradaban modern untuk bisa hidup normal seperti layaknya masyarakat. Mereka adalah suku yang masih sangat “lugu”. Jangankan Handphone, televisi dan perlatan elektronik lain, bahkan cara berpakaian dan menjaga kebersihan badan saja masih belum bisa.

Mereka terbiasa tidak mandi berhari-hari. Hidup seadanya dan tinggal di gubuk-gubuk dalam hutan. Mereka juga tidak mengganti baju meski sudah menempel debu dan tanah di seluruh badannya. Hal itu bagi mereka tak membuat risih, karena begitulah kondisi kehidupan mereka sejak lahir. Masyarakat dengan kondisi inilah yang menjadi objek utama dakwah.

Baca juga: Berdakwah di Kaki Gunung Sibanyak Deli Serdang

Ada lagi satu kebiasaan suku ini yang benar-benar menguji nyali setiap dai. Mereka tak sungkan menombak orang asing yang kurang mereka sukai, khususnya yang dianggap mengancam mereka. Mereka akan mengusir dan menolak kedatangan orang asing yang mereka anggap membahayakan kehidupannya.

Sebaliknya, jika sudah percaya dengan orang yang memberi rasa aman, mereka tak segan berkorban untuknya. Semisal Ust. Nurhadi. Beliau sudah ada di hati masyarakat Suku Togutil. Bahkan kedatangannya selalu dinantikan. Bila ada kabar kunjungan, mereka tidak segan turun gunung untuk menjumpainya.

Ustadz Nurhadi Berdakwah di Tengah Suku Togutil pedalaman Halmahera

Ustadz Nurhadi Berdakwah di Tengah Suku Togutil pedalaman Halmahera

Hikmah Pandemi

Di kampusku STAIL Surabaya, setiap tahun memiliki program mengirim mahasiswa ke berbagai tempat untuk melakukan Safari Dakwah. Program ini bernama Praktik Magang Profesi (PMP) atau biasa dikenal Praktik Pengalaman Lapangan (PPL). Namun, dikarenakan kondisi pandemi Covid-19, program tahunan itu ditiadakan. Yang menyedihkan, seluruh mahasiswa dipulangkan. Peraturan pemerintah dan kebijakan kampus, mengharuskan perkuliahan diselenggarakan secara on line.

Kondisi inilah yang membuatku bimbang, memilih antara pulang kampung atau mencari pengalaman. Alhasil, kuputuskan memilih jalur berbeda yakni mencari pengalaman dakwah. Khawatir di rumah nganggur tanpa aktifitas, aku tertarik ajakan seniorku yang telah mengabdil dan menjadi pembina muallaf Suku Togutil.

Biidznillah, akhirnya aku berangkat ke pedalaman Halmahera di utara Kepulauan Maluku. Sesampainya di lokasi, sungguh kondisi lapangan jauh dari yang aku bayangan. Akses menuju lokasi yang sangan sulit untuk dilalui. Medan alamnya sukar ditaklukkan terutama bagian hutan di pegunungan.

Baca juga: Kisah Guru Ngaji Pedalaman Pulau Aru

Betapa tidak, selain lumpur yang menenggelamkan roda sepeda motor, akses jalan penuh kerikil dan batu. Jalur menuju lokasi berada di antara himpitan gunung yang menjulang tinggi yang rawan longsor. Di sisi lain, jurang yang curam seolah menunggu kita jika terpeleset.

Bahkan, ada bagian ruas jalan yang lebarnya hanya selebar roda sepeda motor. Posisinya tepat di bibir jurang. Terang saja, kondisi tak biasa ini dengan medan alam sedemikian membuat ciut nyali untuk melintas. Satu hari, rombongan kami kesulitan menembus medan dan “jalur maut” karena habis hujan. Kami putuskan menyewa tenaga 4 orang warga setempat untuk membantu angkat sepeda motor termasuk beban bawaannya.

Alhamdulillah, sekian kali menembus hutan, melintas sungai, naik turun gunung kami masih mendapatkan keselamatan. Tekat yang kuat, pertolongan Allah, doa orang tua dan jamaah, serta amanah para dermawan membulatkan tekad membawa kami menemui saudara-saudara kami di pedalaman hutan Halmahera.

Nashirul haq - Ustadz Nurhadi Berdakwah di Tengah Suku Togutil pedalaman Halmahera

Nashirul haq – Ustadz Nurhadi Berdakwah di Tengah Suku Togutil pedalaman Halmahera

Disambut Dingin

Pertama kali rombongan kami datang menemui warga Suku Tugotil tidaklah mudah. Wajah-wajah mereka rupanya tidak menyambut kami dengan ramah. Hal ini terbaca dari respon yang merekan tunjukkan. Kamipun memilih balik kanan. Kami putuskan untuk menunggu seorang ustadz senior yang memang telah menjalin hubungan baik dengan warga suku. Selang tiga hari, sang ustadz akhirnya datang. Dan benar saja, respon warga berubah 180 derajat, sangat positif.

Beberapa hari tinggal bersama mereka, kebekuan pun mulai mencair. Masyarakat mulai aktif mengaji. Dari anak-anak sampai orang dewasa rela belajar. Pertama kali mengajar, aku sempat kaget. Bau kurang sedap memenuhi seluruh ruangan. Maklum, mereka adalah orang-orang yang baru belajar kebersihan.
Kamipun hanya mengajarkan hal-hal yang sederhana. Mengajarkan sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Mengajari cara memakai sarung, cara mandi, dan bersuci. Hal sederhana tapi ternyata sangat bermanfaat bagi mereka. Alhamdulillah.

Baca juga: Banjir Tidak Menyentuh Pesantren Hidayatullah Masamba

Meski hanya beberapa hari, pengalaman ini sungguh sangat berarti. Ada banyak pelajaran berharga yang kudapatkan. Bahwasannya untuk terjun berkarya di masyarakat sekalipun di pedalaman, tidaklah cukup hanya dengan bermodal mental. Berdakwah harus berbekal ilmu, mental yang matang, finansial yang baik, dan kualitas spiritual yang kuat. Dan tentu saja dukungan doa dari orang tua dan jamaah muslimin semuanya.

Pedalaman Halmahera dan masyarakat Suku Togutil membuatku menjadi pribadi yang berbeda. Setidaknya, aku semakin merasakan pentingnya dakwah. Meyakini betapa pentingnya pendidikan. Dan kesyukuranku karena lahir dan besar dalam kondisi masyarakat yang tergolong “mapan dan maju” dalam kebudayaan dan pendidikan. Insya Allah, aku akan meminta doa kepada orangtua, dan saudara sesama muslim, semoga Allah mengabulkan segala hajat dan urusan.

Bagi pembaca yang ingin ikut berpartisipasi dalam jalan dakwah memuliakan saudara-saudara kita masyarakat Suku Togutil di Pedalaman Halmahera, silahkan bergabung dalam kafilah dakwah Ust. Nurhadi (0821 3188 8681). *Nashirul Haq

*Dikutip dari kisah dakwah alumni STAI Luqman Al Hakim Surabaya

0 comment

You may also like

Leave a Comment