Home Kisah Hikmah Kisah Guru Ngaji dari Pelosok Negeri

Kisah Guru Ngaji dari Pelosok Negeri

by Umi Ririn
Kisah guru ngaji dari pelosok negeri ustadz Ahmad Muzaini

Teras itu tidak begitu besar. Ukurannya hanya sekitar 6 x 2.5 meter persegi. Sudah berkeramik. Sedangkan dinding bangunan itu berwarna hijau muda. Di dinding itu terdapat lukisan pohon dan pagar dari kayu. Tulisan angka 1 sampai 10 dengan ukuran besar menghias di dekatnya.

Di atas lantai berkeramik putih itu duduk anak-anak. Jumlahnya 10 orang lebih. Mereka memegang iqra sambil menghadap ke seorang guru yang duduk di depan. Guru ngaji tersebut bernama Ahmad Muzaini. Memakai sarung, koko lengan pendek, dan dipadu songkok nasional hitam.

Ust. Ahmad Muzaini bersama santri-santrinya belajar mengaji Al-Quran

Ust. Ahmad Muzaini bersama santri-santrinya belajar mengaji Al-Quran

Siang itu, Ustaz Muzaini—biasa disapa—ini sedang mengajar ngaji santri Taman Pendidikan al-Qur’an (TPQ) Hidayatullah. TPQ itu terletak di Lingkungan Kokar Dalam, Kel. Telaga Bentong, Kec. Taliwang, Kab. Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB). Jumlah santri di TPQ ini sekitar 20 anak. Setiap bakda zuhur mereka belajar ngaji.

Terus Berdakwah di Tengah Keterbatasan

Tak hanya usai zuhur, Ustaz Muzaini juga mengajar ngaji usai shalat maghrib. Santrinya lebih banyak, 40 anak. Kebanyakan masih SD dan SMP. Muzaini tak sanggup mengajar anak sebanyak itu. Dia dibantu istrinya, Lia Apriana. Padahal, istrinya sarjana pertanian. Dia lulusan Univeritas Mataram. Belum lagi harus mengurus keempat anaknya.

Baca: Menikah, Antara Bersegera dan Tergesa-gesa

Namun, Muzaini terpaksa harus melakukannya. Bisa saja dia memanggil guru ngaji lain untuk mengajar di TPQ binaannya. Apa boleh buat, kas keuangan TPQ tak cukup untuk menggaji. Jangankan gaji guru lain, untuk biaya operasional TPQ saja sudah kembang kempis. “Honor untuk saya dan istri jangan ditanya. Tak jelas. Hehehe,” tutur Muzaini sambil tersenyum.

Sebenarnya para santri diminta untuk membayar setiap bulannya. Sesuai kemampuan masing-masing. Ada dua pilihan: Rp. 25 ribu atau Rp. 50 ribu. Meski begitu, faktanya tak banyak yang mau membayar. Menurutnya, dari semua jumlah santri itu, paling tidak yang rutin, dan full bayar sekitar 5 anak. Sisanya tak tentu, dan kadang-kadang.

Meski begitu, Muzaini tetap bersyukur, dan bahagia. Dia tidak begitu mempermasalahkan sedikitnya santri yang membayar. Baginya, banyak santri yang belajar mengaji sudah membuatnya bahagia, dan semangat mengajar. Katanya, rendahnya daya bayar santri bisa jadi karena ekonomi masyarakat yang relatif rendah. “Pendapatan masyarakat kebanyakan dari sektor perkebunan, dan pertanian,” tuturnya.

Ayah dari empat anak ini tidak patah arang. Tujuan mendirikan TPQ itu juga bukan untuk meraup pundi-pundi rupiah. Dia datang jauh-jauh dari tempat kelahirannya di Lombok ke Taliwang untuk mengajarkan al-Qur’an kepada masyarakat. Jadi, berapapun kas TPQ yang ada sekarang, dia akan tetap mengajar ngaji. Bahkan seandainya tak ada satu pun yang membayar. Dia akan tetap jadi guru ngaji.

Tugas Mulia

Datangnya Ustaz Muzaini ke pelosok Taliwang pada tahun 2015 ini bukan keinginan sendiri. Dia ditugaskan oleh Pimpinan Wilayah (PW) Hidayatullah NTB untuk merintis dakwah di tempat baru itu. Kebetulan ada dermawan yang mewakafkan lahannya untuk dibuat pesantren. Di atas lahan seluas sekitar 400 meter persegi itu sudah ada bangunan.

Hanya saja bangunan berlantai dua itu belum selesai total. Masih ala kadarnya. Lantainya belum berkeramik. Masih diplester biasa. Nah, dari bangunan ini, Muzaini diminta untuk membuka TPQ, sekolah, dan menghidupkan dakwah di masyarakat sekitar. Sungguh tugas yang tidak mudah. Namun, karena tugas mulia, dia hanya bisa menjawab sami’na wa atho’na.

Selain mendirikan TPQ, Muzaini juga telah mendirikan Taman Kanak-Kanak (TK). Bangunannya ya di gedung itu. Bergantian dengan TPQ. Kalau TK diadakan pada pagi hari, TPQ diadakan siang, dan malam hari. Jadi tidak bentrok. Itu kenapa Muzaini terkadang mengajar ngaji di teras gedung TK. Seperti siang itu.

Murid TK yang dikelola Muzaini kini berjumlah 21 orang. Semuanya berbayar. Hanya tak banyak. Namun, kekurangannya dapat ditutupi dari dana Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) pemerintah setahun sekali. Dari sini Muzaini dapat menggaji guru. Meski tidak banyak. Paling tidak cukup untuk transport. Itu juga Muzaini dan istrinya harus menjadi guru TK.

Ust. Muzaini bersama jama'ah ibu-ibu binaannya

Ust. Muzaini bersama jama’ah ibu-ibu binaannya

Aktif Berdakwah

Selain aktif mengajar di TPQ dan TK binaanya, Ustaz Muzaini juga sibuk dakwah di tengah masyarakat. Dia punya jadwal tetap mengajar al-Qur’an ibu-ibu setiap sore di beberapa dusun. Letaknya cukup jauh. Dengan motor bututnya, dia mendatangi satu demi satu majelis taklimnya.

Kebetulan ustaz yang bersuara merdu, dan pandai membaca al-Qur’an ini dapat tugas sebagai trainer pemberantas buta huruf al-Qur’an. Jadi, jadwal, dan jumlah jemaahnya sudah pasti. Setiap sore jamaahnya menunggunya untuk belajar al-Qur’an.

Baca: Tiga Manfaat Sholat Tahajud untuk Kesehatan

Tak hanya sibuk mengajar al-Qur’an kalangan Ibu-ibu di berbagai tempat, dia juga aktif menjadi khatib Jumat. Masjidnya berbeda-beda. Letaknya pun cukup jauh. Jika sudah mendekati jadwal shalat Jumat, Muzaini sudah bersiap-siap untuk berangkat. Kegiatan dakwah itu dilakukan dengan semangat. Baginya dakwah sudah menjadi jalan hidup. Tak bisa dipisahkan.

Sebelum berdakwah di Taliwang, Muzaini bertugas di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Ketika itu, dia baru saja lulus. Di Palangkaraya Muzaini bertugas selama 8 tahun: dari 2008 sampai 2015. Di Kalimantan, Muzaini ditugasi merintis SD. Dari nol. “Alhamdulillah, ketika saya tinggalkan, muridnya sudah banyak. Alumni pertamanya 25 orang,” kenangnya.

Setelah cukup lama berdakwah di Palangkaraya, Muzaini ingin bertugas di Lombok agar dekat orangtua. Keinginan itu dikabulkan pesantren. Eh, bukannya ditugaskan di Lombok dekat rumah, dia justru ditugaskan kembali untuk merintis dakwah di Taliwang. Masih di NTB. Hanya saja jaraknya cukup jauh dari rumah. “Inilah risiko dakwah. Mau bagaimana lagi,” katanya.

Ingin Tinggal di Rumah Sendiri

Sudah lima tahun Muzaini mengepakkan dakwah di Taliwang. Dari berawal rumah kosong yang belum jadi seratus persen. Kini, di gedung itu telah berdiri TK, dan TPQ. Santrinya lumayan. Alumninya sudah banyak. Al-Qur’an perlah-lahan mulai bersinar di sini.

Namun, ada yang mengganjal di hatinya selama ini. Sebab, hingga kini dia masih tinggal di bangunan tersebut. Dia terpaksa menyekat satu ruang untuk dijadikan tempat tinggalnya: dia, istri, dan keempat anaknya. Sempit. Panas. Dan tak nyaman.

Apalagi, dia masih memiliki anak kecil. Terkadang dia juga ingin beristirahat sejenak tanpa mendengar riuangan anak-anak yang kadang menganggu. Keluarganya juga ingin tinggal di tempat yang lebih representatif, dan terjaga privasinya. Semoga di tengah aktivitas dakwahnya yang sebarek itu, ada hati yang tergerak untuk mewujudkannya. Aamiiin.

0 comment

You may also like

Leave a Comment