Home Kisah Hikmah Kisah Guru Ngaji Pedalaman Pulau Aru

Kisah Guru Ngaji Pedalaman Pulau Aru

by Umi Aga
Guru Ngaji Dakwah di Pulau Aru

Kisah guru ngaji di pedalaman pulau Aru Maluku. Sang Surya terus naik meninggi. Tak lelah memberikan cahyanya menerangi semeat. Sinarnya yang lembut menyapa tubuh berpeluh sekumpulan anak manusia. Rombongan remaja beranjak dewasa terlihat riang dengan sendau gurauan. Mereka baru menuntaskan kerja bakti membabat semak belukar. Tak terlihat keluh kesah. Wajah riang penuh semangat mengakhiri gotong royong siang itu.

Di antara mereka nampak wajah teduh penuh wibawa. Seorang pria berbadan subur, kumis tipis dan jenggot melingkari dagunya. Beliau adalah Ustadz Sulaiman Sandere, sang pemimpin kerja bakti di siang itu. “Ayo segera mandi. Waktu shalat Dzuhur sudah dekat,” katanya menghimbau sekumpulan remaja, santri Pesantren Hidayatullah Kepulauan Aru.

Sang Ustadz Muda

Sulaiman Sandere, ustadz muda yang murah senyum itu cepat berkemas. Bergegas memberesakan alat. Begitupun para santri, mereka segera menyelesaikan masing-masing pekerjaannya. Para santri kebanyakan adalah anak-anak kampung di pedalaman Kepulauan Aru. Mereka segera membersihkan diri, mandi, berwudhu dan menuju mushallah untuk mendirikan shalat jamaah Dzuhur.

Baca Juga : Kisah Perjuangan Dakwah di Pedalaman Halmahera

Shoat Dzuhur telah usai, sekumpulan santri bersantai di teras depan asrama pondok sekaligus menjadi mushalla sementara. Bangunan sederhana ini memang multifungsi. Seraya menikmati hidangan siang, menyeruput teh, mengunyak manisnya pisang goreng, mereka menikmati siang itu dengan penuh keakraban. Sungguh suasana yang damai menyejukkan.

Ustadz Sulaiman, Guru Ngaji Dakwah di Pulau Aru

Ustadz Sulaiman, Guru Ngaji Dakwah di Pulau Aru

Begitulah aktifitas keseharian Ustadz Sulaiman. Selain menjadi pengasuh santri, mengajar Al Qur’an, pria ramah ini juga mengisi majelis taklim di masyarakat sekitar. Rutinitas ini diakukan selama masa perintisan bakal kampus Hidayatullah Dobo Kepulauan Aru tersebut. Bersama masyarakat sekitar bahu membahu membabat ilalang dan mendirikan bangunan sederhana. Makin hari, kampus dakwah dan pendidikan Hidayatullah di pedalaman Pulau Aru itu kian menunjukkan progresifitasnya.

“Sampaikan saja yang apa sudah kita rasakan tentang nikmatnya ber-Islam,” kata Ust Sulaiman mengungkapkan tipsnya dan kiatnya dalam berdakwah. Menurutnya, dakwah adalah bahasa hati. Bahasa seorang dai adalah juga bagian dari kepingan hatinya. Artinya, jelas dia, seorang dai harus benar-benar sudah merasakan, meresapi dan mendalami dakwahnya kepada umat.

“Dengan begitu, hati akan sama-sama klop untuk segera menyergap, menyedot dan menyadap spirit Ilahi,” katanya sambil menirukan diksi pendiri Hidayatullah, almarhum Abdullah Said.

Baca Juga : Kisah Guru Ngaji Berdakwah di NTT

Sulaiman menyelesaikan pendikan SD dan Mts di Pesantren Hidayatullah Balikpapan. Ia kemudian melanjutkan pendidikan Madrasah Aliyah di Makassar dan juga menyelesaikan pendidikan tingginya di kota Daeng tersebut. Dai 6 orang anak ini terus menguatkan dakwah di Aru dengan merintis pesantren sebagai pusat dakwah dan pendidikan di Dobo untuk generasi masa depan.

Tantangan Dakwah Pedalaman Aru

Kabupaten Kepulauan Aru adalah salah satu kabupaten di provinsi Maluku. Ibukota kabupaten ini terletak di Dobo. Di kawasan inilah Ustadz Sulaiman mendapatkan tugas mengemban amanah dakwah sejak kurang lebih 2 tahun lalu. Alamnya sebagai daerah yang eksotik begitu unik dengan gugusan pulau-pulaunya yang menawan. Namun justru hal itulah yang menjadi spesial bagi Sulaiman.

Musholla tempat ustadz Sulaiman mengajar Al Quran dan berdakwah

Musholla tempat ustadz Sulaiman mengajar Al Quran dan berdakwah

Bagaimana tidak, dengan gugusan lebih dari 100 pulau kecil, membuat dakwah Sulaiman yang selain menantang, juga sarat dengan haru biru. Saban waktu pria 37 tahun harus berjibaku dengan ombak laut.

“Kapal-kapal atau perahu dari desa ke desa sangat mempengaruhi pergerakan ekonomi. Dan begitu pula pergerakan dakwah, tidak lepas dari tranportasi laut. Inilah yang membedakan kabupaten Aru ini dengan daerah lain,” kata Sulaiman.

Sulaiman mengatakan, transportasi laut memang sudah menjadi kebutuhan dasar masyarakat baik untuk pemenuhan keperluan ekonomi maupun interaksi sosial masyarakat. Sehingga wajar jika transportasi laut hampir sama jumlahnya dengan transportasi darat yang ada di kota Dobo.

Tiada kesibukan Sulaiman yang menyita waktu dan perhatiannya selain berdakwah. Lelaki kelahiran Bone, Sulawesi Selatan ini selain memenuhi permintaan mengisi kajian dakwah rutin ke berbagai titik pulau, ia juga membina salah satu dusun yang bernama Jerukin di Desa Maikor.

Penduduk desa Makor heterogen dengan agama Islam dan Kristen. Mereka hidup rukun bahkan mereka tinggal satu rumah. Kata Sulaiman, harmoni tersebut terus terawat dan menjadi teladan dalam toleransi.

0 comment

You may also like

Leave a Comment